Sosial  

Tak Punya Biaya, Penderita Kanker Mulut di Luwu Ini, Menolak Dirujuk ke Makassar

Eksposindo.com — Nenek Satira (64) warga Dusun Pandoso, Desa Padang Lambe, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kesehariannya hanya bisa terbaring lemah di rumahnya dan menahan rasa sakit akibat penyakit yang diduga kanker yang dideritanya di bagian mulut.

Wanita paruh bayah ini tergolong warga kurang mampu di daerahnya, saat ini tinggal bersama dengan anak dan cucunya dirumahnya yang sangat sederhana.

Penyakit yang diderita nenek Satira ini sempat mendapatkan perawatan medis di salah satu rumah sakit di Kota Palopo, namun pihak RS memutuskan untuk merujuk nenek Satira ke RS Wahidin Makassar.

Namun karena persoalan biaya pihak keluarga memutuskan untuk melanjutkan pengobatan di rumah. Biaya berobat dan kehidupan sehari-hari nenek Satira dibiayai oleh anak menantunya yang tinggal bersamanya.

Menantu nenek Satira yang bekerja sebagai Keamanan disalah satu Sekolah Dasar (SD) di daerahnya itu, tidak mampu untuk membawa ibu mertuanya untuk berobat ke Makassar.

“Sudah pernah di rawat di Rumah sakit di Kota Palopo tapi saat itu mau di rujuk ke Makassar, BPJS ada untuk pengobatan tapi untuk biaya hidup di Makassar tidak ada sehingga keluarga memutuskan nenek di rawat di rumah saja,” ujar, Cucu nenek Satira, Wandi.

Wandi menceritakan, Nenek Satira mengidap penyakit yang diduga kanker ini sudah 5 bulan, bahkan sepekan ini kondisi nenek Satira semakin memprihatinkan tidak bisa mengkonsumsi makanan hanya bisa minum air.

“Sudah Seminggu nenek tidak bisa makan, hanya terbaring lemah diatas tempat tidur, hanya diberi obat dan air minum,” ucapnya.

Cucu Nenek Satira ini mengatakan untuk biaya obat nenek pihak keluarga menggunakan dana pribadi agar proses pengobatan nenek Satira bisa berlanjut.

“Dulu ada obatnya dari rumah sakit, tapi karena obatnya sudah habis, jadi untuk menyambung obat nenek, kami beli dengan uang sendiri,” ungkapnya.

Cucu nenek Satira sangat berharap ada dermawan yang bisa membantu pengobatan nenek tersayangnya itu, sehingga dia bisa pulih kembali. (*)