Jika Hujan di Malam Hari, Keluarga Kurang Mampu Ini Biasa Tidur Sambil Duduk

  • Bagikan

Eksposindo.com — Tinggal bersama dengan istri dan 4 orang anaknya, Hasanuddin (50) warga Desa To’bia, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu ini menempati rumah yang tidak layak huni dengan ukuran 2 x 3 meter.

Hasanuddin sudah tiga tahun hidup di rumahnya itu. Rumah yang ditempati Hasanuddin merupakan pemberian dari warga setempat yang masih punya hubungan keluarga dengannya.

Keseharian Hasanuddin hanya kerja  serabutan, disaat tak punya kerja Ia ikut membantu istrinya sebagia buruh pengikat bibit rumput laut di daerahnya.

Sebelum menempati rumahnya itu, Hasanuddin sempat merantau ke negara tetangga Malaysia, disana Ia bekerja di perkebunan kelapa sawit.

“Sebelumnya saya merantau ke Malaysia dan tinggal disana kurang lebih 20 tahun, selama itu juga saya tidak pernah pulang kampung, namun akhirnya saya selalu ingat dan rindu kampung halaman akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke kempung, dengan istri saya yang asli Malaysia beserta anak-anak saya” ucapnya, Jumat 3 Juli 2020.

Rumah tempat tinggal Hasanuddin bersama dengan istri dan empat orang anaknya

Anggota DPRD Provinsi dari Fraksi Demokrat, Fadriaty Asmaun yang mendengar ada satu keluarga yang hidup di rumah tidak layak huni itu,  turun langsung melihat kondisi warga tersebut dan memberikan bantuan berupa sembako dan pakaian buat keluarga Hasanuddin.

“Sedih melihatnya, dengan melihat kondisi rumahnya yang hanya berukuran 2 x 3 meter ini mereka sanggup untuk tinggal bersama” ucap Fadriaty yang akrab disapa Enceng itu dengan meneteskan air mata.

Dengan nada sedih Fadriaty mencoba untuk memberikan semangat kepada Hasanuddin dan Istrinya, agar tetap tabah, bersabar menjalani hidupnya¬† serta terus berdo’a agar Tuhan selalu memberikan kesehatan dan membukakan pintu rezeki kepada keluarganya.

“Sabarki, semoga kita selalu diberi kesehatan dan kemudahan rezeki dikehidupan sehari-hari, rawat anak-anakta agar dia bisa sekolah dengan baik” ucap Fadriaty sambil mengusap air matanya.

Fadriaty yang turun bersama dengan Sekretaris Desa To’bia menitipkan pesan agar secepatnya keluarga tersebut bisa diberikan bantuan bedah rumah yang layak huni, karena rumah keluarga tersebut sudah sangat memperihatinkan.

“Sekdesnya sudah setuju tentang usulan bantuan bedah rumah bagi keluarga Hasanuddin, semoga bantuan tersebut cepat terealisasi” kata Fadriaty.

Sementara, Intan (27) istri dari Hasanuddin sangat bersyukur dan menyampaikan rasa terimakasihnya atas kunjungan dan bantuan yang diberikan kepada keluarganya.

“Terimakasih banyak atas bantuan ibu fadriaty, ini sangat berarti buat keluarga kami,” ungkapnya

Untuk membantu suaminya  memenuhi kebutuhan sehari-hari, Intan berkerja sebagai buruh pengikat rumput laut di sekitar  tempat tinggal mereka

Intan menceritakan bahwa dalam bekerja dirinya diberi upah Rp. 5 ribu, dengan hitungan pertali, panjang satu tali itu 25 meter, Ia biasa meneyelesaikan 8 – 10 tali perharinya, sehingga dirinya biasa mendapatkan upah sebanyak Rp. 50 ribu dalam sehari.

Dalam bekerja Intan selalu membawa anak bungsunya yang masih bayi, Ia berangkat di pagi hari dan pulang ketika menjelang maghrib.

“Bayinya masih menyusui jadi saya kasih ikut ke tempat kerja, disitu juga dia tidur dalam ayunan kalau bayinya sudah ngantuk, mau apalagi, jalannya sudah seperti itu” ucapnya dengan logat Malaysia.

Intan juga menceritakan kalau mereka biasa duduk bersandar sambil tidur di dinding rumahnya kalau hujan tiba dimalam hari, karena atap rumahnya sudah bocor-bocor.

“Iya, saya dengan suami saya sudah biasa tidur duduk kalau lagi hujan dimalam hari, namun sebelumnya kami geser dulu anak-anak ke dekat dinding yang tidak terkena hujan” ucap Intan sambil tersenyum.

Kedua orang tua Intan merupakan warga negara asli Malaysia dan tidak punya keluarga di Luwu, hanya suaminya yang merupakan asli Luwu, Ia mengatakan kalau dirinya tidak pernah menyesal ikut dengan suaminya karena seorang istri memang harus patuh kepada suami, dan persoalan hidup itu memang sudah resiko dalam berumah tangga, ucap Intan.

Dalam menceritakan kehidupannya,  tak nampak rasa sedih dan penyesalan tentang hidupnya yang ikut dan hidup di kampung halaman suaminya, justru Intan mengatakan kalau tak ada guna sedih dan menyesal karena seperti itulah hidup dan dirinya harus tetap bersyukur karena masih bisa diberikan kekuatan dan kesehatan serta bisa berkumpul dengan keluarganya, ucapnya dengan logat Malaysianya itu. (acc)

  • Bagikan